Nilai Humanisme dalam Serat Saptastha

Afiliasi Ilafi, Bani Sudardi, Supana Supana

Abstract


Raja merupakan pemimpin yang dipandang sebagai perwujudan ilahi. Setiap perintah dan keputusannya harus dipatuhi dan dijalankan sebagai bukti bakti. Raja yang tetap dipatuhi rakyatnya meskipun mengalami peristiwa yang tidak lazim di kalangan raja adalah Hamengku Buwana VII. Kisah kemunduran Hamengku Buwana VII dari kursi raja tertuang di dalam isi naskah Serat Saptastha yang tersimpan di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Naskah Serat Saptastha tergolong naskah sejarah karena berisi sejarah peralihan kekuasaan dari Hamengku Buwana VII kepada putranya, Pangeran Adipati Anom, yang kemudian dinobatkan sebagai Hamengku Buwana VIII setelah Hamengku Buwana VII memilih meninggalkan kerajaan dan menetap di Ambarukma. Metode yang digunakan dalam penulisan ini analisis isi dengan pendekatan sosiologi sastra. Tulisan ini menunjukkan bahwa naskah Serat Saptastha dapat menggambarkan sosok Hamengku Buwana VII sebagai raja pemberani dan berwibawa meskipun mengalami lengser keprabon. Citra Humanisme yang ditampilkan Hamengku Buwana VII dalam naskah Serat Saptastha menunjukkan sikap kawicaksanaan, keberanian, dan kewibawaan.


Keywords


humanisme; Serat Saptastha; Hamengku Buwana VII

Full Text:

PDF

References


Antlov, H., & Cederroth, S. (2001). Kepemimpinan Jawa: Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter.

Asnafiyah. (2014). Karakter Pemimpin, Kajian Buku Tematik Kelas 4 SD/MI Kurikulum 2013. Jurnal Al-Bidayah, 6(1 Juni).

Dirgantara, A. B. (2014). Serat Saptastha dalam Kajian Filologis. Universitas Negeri Semarang.

Moedjanto, G. (1994). Kasultanan Yogyakarta & Kadipaten Pakualaman. Yogyakarta: Kanisius.

Moertono, S. (1985). Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Natasha, G. (2015). Analisis Isi Rubrik “Indonesia Banget” Pada Majalah Gogirl! Tahun 2013 Tentang Tradisi Di Indonesia. E-Journal Ilmu Komunikasi, 3(3), 613—627.

Purwadi. (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Abadi.

Ratna, N. K. (2004). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Semi, M. A. (2012). Metode Penelitian Sastra. Bandung: CV Angkasa.

Sesana, R. (2010). Intrik Politik dan Pergantian Tahta di Kesultanan Yogyakarta 1877—1921. Universitas Indonesia.

Suseno, F. M. (1988). Kuasa dan Moral. Jakarta: Gramedia.

Suwondo, B. (1978). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan daerah departemen pendidikan & kebudayaan.

Suyami. (2008). Konsep Kepemimpinan Jawa Ajaran Sastra Cetha dan Astha Brata. Yogyakarta: Kepel Press.

W.J.S., P. (1939). Baosastra Djawa. Batavia: J.B. wolters.




DOI: http://dx.doi.org/10.26499/madah.v9i1.666

Article Metrics

Abstract view : 25 times
PDF - 14 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra

 

MADAH INDEXED BY:

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic

 

 _____________________________________________________________________________________________________________

@2017 Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra (E-ISSN 2086-6038, P-ISSN 2580-9717), Balai Bahasa Riau, Jalan H.R. Soebrantas Km. 12,5, Kampus Binawidya Kompleks Universitas Riau, Panam, Pekanbaru, Riau. Powered by OJS

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License
This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.