Pesan Moral dalam Puisi “Padamu Jua” Karya Amir Hamzah

Akhsin Ridho

Abstract


The shift in the values of life in a society increasingly fades and is inevitable from other cultural influences especially for students who are in transition looking for their identity. This create problem for the community itself and in the end, the traditional values were neglected. Such problems can actually be minimized if we can learn from history. Therefore, this research was conducted by reading and interpreting the poem "Padamu Jua" by Amir Hamzah by using a hermeneutic approach. The renewal lies in the method approach used in analyzing each paragraph of poetry by looking at and exploring the history of the author. Interpretation is conducted through a literature review of the life journey of Amir Hamzah at the time of writing the poem. The results of the research of hermeneutics in the poetry text can be concluded to tell about the inner upheaval between tradition and the principle of life. The meaning of this poem can be a lesson (advice) for everyone, especially for those who are learning to be careful, not wrong in making decisions. Each region has its own traditions and culture that cannot be violated by the community. Situations, upheaval, and feelings kept in the heart may not change the sense of compliance with parents.

 

Pergeseran nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat semakin memudar. Pengaruh budaya lain tidak terelakkan lagi. Terutama bagi pelajar yang sedang dalam masa transisi mencari jati diri. Hal tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang pada akhirnya mengabaikan nilai-nilai. Persoalan tersebut sebenarnya bisa diminimalkan jika belajar dari sejarah. Mempelajari sejarah, bisa dilakukan melalui keberadaan karya sastra. Melalui puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah, misalnya. Dengan penelitian ini, penulis membaca dan menginterpretasi puisi tersebut menggunakan pendekatan hermeneutika. Kebaruan penelitian ini terletak pada metode yang digunakan dalam menganalisis setiap paragraf puisi, yaitu dengan melihat dan mendalami sejarah penulisnya. Interpretasi dilakukan melalui kajian pustaka atas perjalanan hidup Amir Hamzah pada saat menulis puisi tersebut. Hasil kajian yang ditemukan adalah bahwa puisi “Padamu Jua” berkisah tentang pergolakan batin antara tradisi dan prinsip hidup. Makna puisi ini dapat menjadi pelajaran (nasihat) bagi semua orang, khususnya yang sedang menempuh pendidikan agar selalu berhati-hati dan tidak keliru dalam mengambil keputusan. Setiap daerah mempunyai tradisi dan budaya masing-masing yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakatnya. Situasi, gejolak, dan rasa yang terpendam dalam hati tidak boleh mengubah rasa kepatuhan terhadap orang tua.

Keywords


hermeneutics; poetry; tradition; moral

Full Text:

PDF

References


Adian, D. G. (2005). Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Balfas, M. (1976). Modern Indonesian Literature in Brief. In L. F. Brakel (Ed.), Handbuch der Orientalistik (1st ed.). Leiden: Brill.

Danardana, A. S. (2017). Memaknai “Solilokui Para Penunggu Hutan” Marhalim Zaini. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 7(1), 1—10. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31503/madah.v7i1.434

Dini, N. (1981). Amir Hamzah: Pangeran dari Seberang. Jakarta: Gaya Favorit Press.

Echols, J. (1956). Indonesian Writing in Translation. Ithaca: Cornell University Press.

Husny, M. L. (1978). Biografi – Sejarah Pujangga dan Pahlawan Nasional Amir Hamzah. Jakarta: Department of Education and Culture.

Jassin, H. B. (1962). Amir Hamzah: Radja Penjair Pudjangga Baru. Jakarta: Gunung Agung.

Johns, A. H. (1979). Cultural Options and The Role of Tradition: A Collection of Essays on Modern Indonesian and Malaysian Literature. Canberra: Faculty of Asian Studies in Association with the Australian National University Press. Retrieved from https://openresearch-repository.anu.edu.au/bitstream/1885/115096/2/b12181869.pdf

Kuswaya, A. (2009). Pemikiran Hermeneutik Hassan Hanafi. Salatiga: STAIN Salatiga Press.

Ma’rifat, D. F. (2014). Syair Jawi: Manuskrip Ambon. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 5(1), 115—128. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31503/madah.v5i1.529

Mualler-Vollmer, K. (2006). The Continuum International. In The Hermeneutics Reader. New York: Continuum. Retrieved from https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=Uk_KBAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR5&dq=Kurt,+M.-V.+(2006).+The+Hermeneutics+Reader.+Texts+of+the+German+Tradition+from+the+Enlightenment+to+the+Present.+New+York:+Continuum.&ots=wclXVBXxGb&sig=ngErUtlzSm9BToKuqQv4EaR5q

Rachmawati, R. (2013). Strategi Penerjemahan Puisi-Puisi Chairil Anwar oleh Raffel dalam Buku The Complete Prosen and Poetry of Chairil Anwar. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 4(2), 140—148. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31503/madah.v4i2.536

Riswara, Y. (2012). Puitika dalam Lirik Saluang: Sebuah Kajian Etnolinguistik Minangkabau. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 3(2), 113—121. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31503/madah.v3i2.570

Siapno, J. A. (2002). Gender, Islam, Nationalism and the State in Aceh : The Paradox of Power, Co-Optation and Resistance. London: RoutledgeCurzon.

Teeuw, A. (1980). Sastra Baru Indonesia. Ende: Nusa Indah.




DOI: http://dx.doi.org/10.31503/madah.v10i1.869

Article metrics

Abstract views : 47 | views : 40

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Akhsin Ridho

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 

MADAH INDEXED BY:

 

 _____________________________________________________________________________________________________________

@2017 Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra (E-ISSN 2086-6038, P-ISSN 2580-9717), Balai Bahasa Riau, Jalan H.R. Soebrantas Km. 12,5, Kampus Binawidya Kompleks Universitas Riau, Panam, Pekanbaru, Riau. Powered by OJS

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License
This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.