EKSISTENSI PEREMPUAN TIONGHOA DALAM NOVEL SAMITA: BINTANG BERPIJAR DI LANGIT MAJAPAHIT KARYA TASARO (The Existence Chinese Woman in Samita Novel: “Bintang Berpijar di Langit Majapahit” Written by Tasaro)

Devyanti Asmalasari

Abstract


Novel yang berlatar belakang sejarah keruntuhan kejayaan Majapahit ini memperlihatkan kekhasan dalam menggambarkan perjuangan tokoh Hui Sing yang mampu menghilangkan stereotip perempuan Tionghoa yang selalu berada dalam kekuasaan laki-laki. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang eksistensi perempuan Tionghoa dalam novel Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analisis. Pendekatan struktural dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan perempuan Tionghoa dalam novel ini. Selanjutnya pendekatan feminisme dilakukan untuk mengetahui eksistensi tokoh Hui Sing sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakatnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan perempuan Tionghoa yang digambarkan melalui tokoh Hui Sing tampil sebagai sosok pribadi yang berpikiran terbuka dan cerdas, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya. Dengan demikian, didapat persepsi baru bahwa sosok perempuan Tionghoa dalam novel ini tidak menduduki posisi subordinat, ia adalah pelaku perbuatan.

Abstract:

The novel setting the historical background of the collapse of Majapahit Glory has its own uniqueness in illustrating the struggle of Hui Sing who was able to eliminate the stereotype of Chinese woman who used to be in man’s control. The aim of the research is to describe the exist- ence of Chinese woman in the Samita Novel: Bintang Berpijar di Langit Majapahit. The applied method in the research is descriptive analysis. The structure approach was conducted as the pre- liminary step in understanding the Chinese Woman in this novel. Next, the feminism approach was carried out to know the existence of Hui Sing character either as an individual or as society member in Samita novel: Bintang Berpijar di Langit Majapahit illustrated in the Hui sing charac- ter as open mind and smart person, independent and responsible on himself. Therefore, we can obtain new perception that a Chinese woman character in the novel was not in the subordinated position, she was the agent of conducting something.


Keywords


Existence, Chinese woman, Novel

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.26610/metasastra.2013.v6i1.1-9

Article metrics

Abstract views : 309 | views : 355

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2013 Devyanti Asmalasari

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

METASASTRA INDEXED BY:


 

 _____________________________________________________________________________________________________________

@2019 Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra (e-ISSN 2503-2127, p-ISSN 2085-7268), Balai Bahasa Jawa Barat, Jalan Sumbawa Nomor 11 Bandung 40113. Powered by OJS

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.