TRADISI LISAN CEPUNG: SASTRA PERLAWANAN KOMUNITAS SASAK TERHADAP KEKUASAAN BALI DI PULAU LOMBOK (Cepung Oral Tradition: Literature Resistance of Sasak Community to Domination of Bali in Lombok Island)

Nining Nur Alaini

Abstract


Cepung merupakan seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dalam komunitas Sasak di Pulau Lombok. Dalam tradisi ini dibacakan lontar Monyeh yang diiringi instrument-instrumen suling, redep (rebab dalam gambang kromong, Betawi) dan musik vokal menirukan bunyi gendang, kenceng, dan rincik. Lontar klasik Monyeh digubah dalam bentuk pantun dalam bahasa Sasak. Lontar ini mengisahkan seorang putri raja yang disisihkan delapan saudaranya.  Cerita Monyeh sebenarnya merupakan sebuah bentuk perlawanan komunitas Sasak terhadap hegemoni Karangasem di Pulau Lombok. Hal yang menarik adalah adalah bergabungnya  komunitas Bali dalam tradisi lisan ini. Cepung secara pragmatik dan kultural menjadi menarik, karena sastra yang semula merupakan sebuah perlawanan, pada akhirnya menyatukan dua komunitas, Sasak dan Bali dalam sebuah harmoni seni pertunjukan tradisi lisan.  Melalui kajian pragmatik, tulisan ini akan mengungkapkan tujuan nonliterer  dalam tradisi lisan Cepung. Dari kajian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa keterlibatan suku Bali dalam tradisi lisan Cepung ini didorong oleh kekecewaan mereka terhadap perilaku negatif para penguasa Bali di Lombok. Oleh karena itu, melalui Cepung pula, mereka menyampaikan kekecewaannya.

Abstract:

Cepung is a traditional performance art that grows in Sasak in Lombok Island. In this tradition, Lontar Monyeh is recited while accompanied by suling (flute)  instruments, redep (fiddle in Gambang Kromong, Betawi) and vocal music imitating sound of gendang, kenceng, and rincik. Lontar Monyeh is composed in the form of rhyme in Sasak language. Monyeh story is actually a form of resistance of Karangasem Sasak community to the Karangasem hegemony in Lombok island.The interesting thing is that the community of Bali   takes a part  in this oral tradition. Cepung is pragmatically and culturally  interesting as  the original literature which was initially as a resistance, then eventually uniting the two communities, Sasak and Bali in a  performance art harmony  of oral tradition. Through the study of pragmatics, this study  will reveal the nonliterer purpose in the Cepung oral tradition. From the study it can be concluded that Balinese involve- ment in the tradition was triggered by their dissatisfaction with the negative behavior of  Balinese rulers in Lombok. Therefore,  they  also  expressed their disappointment through it.


Keywords


oral tradition

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.26610/metasastra.2015.v8i1.47-60

Article metrics

Abstract views : 335 | views : 306

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2015 Nining Nur Alaini

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

METASASTRA INDEXED BY:


 

 _____________________________________________________________________________________________________________

@2019 Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra (e-ISSN 2503-2127, p-ISSN 2085-7268), Balai Bahasa Jawa Barat, Jalan Sumbawa Nomor 11 Bandung 40113. Powered by OJS

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.